Polres Kediri Berhasil Meringkus, 8 Pelaku Skiming di Kediri

WARTAJATIM.COM: KEDIRI - Polres Kediri berhasil meringkus 8 tersangka Kasus pembobolan lewat ATM nasabah dengan skiming, tetapi modusnya berbeda. Mereka ditangkap serentak dengan melibatkan tiga tim dalam penangkapan. Senen (9/4/2018) pukul 12.00 WIB. 

Kapolres Kediri AKBP Erick Hermawan menjelaskan, bahwa sehubungan dengan laporan nasabah Bank BRl Cabang Kediri Unit Ngadiluwih, Kabupaten Kediri. Sekitar bulan Januari 2018 sampai dengan Maret 2018.

Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Kediri berkordinasi dengan para pihak terkait telah melakukan penangkapan terhadap pelaku pembobol nasabah dari berbagai bank, melalui mesin ATM.

"Dari 8 tersangka 3 diantaranya sedang di periksa di Polda Jawa Tengah, ke 3 pelaku ditangkap dikarenakan, ada hubungannya dengan kejahatan yang dilakukan," ujar Kapolres Erick Hermawan.

Dalam kasus ini ada 8 tersangka tidak berasal dari satu kota saja. Namun, berasal dari beberapa kota. Diantaranya yaitu : SP (43) warga Desa Ngadi, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, NM (35) warga Desa Sarirejo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, SG (38) warga Desa Sidomukti, Kecamatan Sekampung, Kabupaten Lampung, MS (49) warga Desa Boro, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulung Agung, SJ (50) warga Desa Ngunter, Kabupaten Lumajang, MT (54) warga Desa Purwokerto, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, SW (49) warga Desa Sari Rejo, Kecamatan Talun, Kabupaten Pekalongan dan yang terakhir AR (34) warga Desa Trompo, Kecamatan Kendal, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

"Untuk peralatan yang kita sita ada banyak namun modus operandinya menggunakan Spycamp. Sistimnya tetap Skiming cuma beda modus operandinya," jelasnya.

Lebih lanjut, menurut Kapolres Erick Hermawan, saat ini masih ada pelaku lain yang masih dalam proses pengejaran.

"Masih ada beberapa pelaku lagi yang sekarang masih di kejar di Jakarta," tegasnya. 

Sementara itu Kasat Reskrim Polres Kediri AKP Hanif Fatih Wicaksono menambahkan, modusnya hampir sama dengan Skiming. Tetapi, modusnya berbeda. "Awal perkenalan pelaku (SP) sebelumnya bekerja di PJTKI kenal dengan (LT) yang saat ini masih buron di Jakarta. Awal ide muncul sekitar bulan Nopember 2017. Saat itu (LT) menawarkan pekerjaaan dengan iming-iming pembagian 10% dari hasil, dengan tugas menscan Struk ATM ditiga mesin ATM BRI Kecamatan Ngadiluwih, Jalan Doho Kota Kediri dan di RS Muhammadiyah Kota Kediri.

"Hal tersebut bertujuan untuk mengetahui posisi lokasi mesin ATM, dari kerjasama tersebut selanjutnya (SP) merekrut beberapa orang terduga, diantaranya (NM), (MS), (SJ) dengan tugas antara lain memasang Spycamp, memindah data rekaman Video, memindah data nasabah dan melakukan penarikan uang nasabah. Sementara tugasnya sama dengan (SG), (AR), (SW)," katanya. Petugas berhasil mengamankan barang bukti berupa, 332 ATM, 4 buah Spycamp, 2 buah flasdisc, 6 buah HP berbagai merek, 3 buah laptop, 4 buah Hardisc, 6 buah memory card micro, 1 unit PC merek HP, 5 buah Charge, 4 buah alat cukit, 7 buah buku tabungan, 4 buah masker penutup wajah, 3 buah jaket, 6 buah topi, 1 jas hujan warna merah maron, 15 lembar struke bukti transfer, 1 unit R4 mobil merk Xenia hitam nopol B 1044 KIM, 1 unit R4 mobil merk Toyota Avanza nopol B 1268 ZFW, 1 buah alat MSR (pemindah data), 1 gunting, 1 pisau, 1 obeng, 6 buah tas dan 1 kartu ATM BRI warna hijau milik MS. 

Dikatakan Hanif, pelaku dikenai pasal 46 dan pasal 48 nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas undang-undang nomor 11 tahun 2008 tentang iniormasi dan transaksi elektronik dan pasal 363 KUHP atau 362 KUHP hingga pasal 378 KUHP, dengan ancaman hukuman 3 Tahun," pungkasnya. (prijo)

Berita Terbaru

Index Berita