DPRD dan Disdik Kota Kediri Duduk BersamaTerkait Kenakalan Anak dan Pelajar di Kota Kediri.

INDONESIASATU.CO.ID:

Siswanto Kepala Dinas Pendidikan dan Reza Darmawan Anggota DPRD Kota Kediri dari PAN. (foto : prijo atmodjo)

KEDIRi, - Terkait kenakalan anak dan pelajar tidak hanya tanggung jawab guru saja, namun ini juga peran aktif orang tua, lembaga anak dan masyarakat. 

DPRD  Kota Kediri bersama Dinas Pendidikan Kota Kediri duduk bersama membahas kenakalan pelajar, di Gedung DPRD Kota Kediri Jalan Mayor Bismo, Kelurahan Semampir Kota Kediri, Kamis (1/2) pukul.09.00 WIB.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri, Siswanto saat dikonfirmasi bahwa masalah kenakalan anak dan pelajar merupakan tanggung jawab kita bersama.

"Upaya yang dilakukan tatib sekolah lebih ditingkatkan di semua lini pendidikan.Tidak hanya, guru sekolah, guru olah raga, orang tua, lembaga ekternal LPA, dan Kepolisian juga ditingkatkan serta peran aktif masyarakat,"terangnya.

Dia mengatakan Disidik bersam Legislatif akan melakukan upaya peningkatan pengawasan di masing-masing sekolah

"Masalah  parenting juga lebih ditingkatkan, yang biasanya dua kali. Sekarang, bisa tiga sampai  empat kali,"tegasnya.

Masih menurut Dia, Semua peran aktif stakeholder juga lebih ditingkatkan, saat jam sekolah pengawas BK di SMP lebih ditingkatkan bila perlu tambah.

"Pada saat jam sekolah siswa yang berada di luar sekolah perlu bantuan dari Satpol PP untuk melakukan tindakan, agar ada efek jera pada siswa yang bolos pada jam belajar,"tandasnya.

Kendala yang dialami, Menurutnya hanya perlu sinkronisasi murid antara orang tua, guru sekolah dan lembaga terkait agar segala masalah bisa diatasi.

Sementara itu, Reza Darmawan Anggota DPRD Kota Kediri dari PAN, sangat mendukung upaya dari Disdik akan mendukung upaya yang dilakukan dinas pendidikan.

"Kalau semua sangat dibutuhkan oleh masyarakat, sudah pasti anggaran yang diajukan dan diusulkan pasti kita setujui. Karena, demi kebaikan bersama," pungkas Reza. 

Peristiwa berawal dari  kekerasan pada tanggal 18 Januari 2018 lalu. Korban TA bersama teman-temannya tengah bertanding sepak bola saat jam istirahat di halaman sekolah. Secara tak sengaja TA melakukan gol bunuh diri yang memicu kemarahan teman-temannya.

Di luar dugaan, mereka menghajar TA secara keroyokan. Bahkan, beberapa kali kemaluan korban ditendang dan diinjak-injak. Ironisnya peristiwa yang sempat menjadi perhatian para pelajar itu tak diketahui sama sekali oleh para pengajar.

Kasus ini menjadi perhatian kepolisian lantaran kondisi kesehatan TA yang terus memburuk. Bahkan dia sempat dirawat di ruang ICU RS Bhayangkara Kediri sebelum dirujuk ke RSUD Dr Soetomo Surabaya.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Kediri Ajun Komisaris Ridwan Sahara mengatakan polisi terus menyelidiki kasus bullying itu dengan memeriksa sejumlah siswa dan pengajar SDN Pakunden. Dari pemeriksaan itu diketahui jika pelaku perisakan terhadap TA berjumlah tujuh siswa. “Motifnya karena kesal saat bermain sepak bola,” kata Ridwan.

Hingga kini polisi belum menetapkan tersangka dalam kasus ini. Mereka juga memastikan pemeriksaan terhadap para pelajar sekolah dasar dilakukan secara ramah sesuai UU Perlindungan Anak. (prijo)

 

Index Berita