Aloka Menanyakan Kemajuan Penyelidikan, Kasus Yang Dilaporkan ke Kejaksaan

INDONESIASATU.CO.ID:

KEDIRI - Beberapa LSM yang tergabung dalam  LSM Ormas Kediri Raya (Aloka) bertemu dengan Kajari Kota Kediri Dra. Martini, SH.MH di Kantor Kejaksaan Negeri Kota Kediri, Rabu (25/4/2018). 

Aloka bertamu dengan maksud menanyakan kemajuan penyelidikan Kejaksaan Negeri atas laporan yang diberikan oleh aliansi LSM yang terdiri dari antara lain, Imam Ansori LSM Fomak, Revi Pandega LSM Gerak, Choirul Anam LSM K2RD, Roy Kurniawan LSM Pekat IB, dan Agus MKLB.

Kajari Martini menyatakan, bahwa empat hal yang dilaporkan oleh LSM yakni masalah Pasar Setono Betek, RTH Sungai Brantas, Raskin dan Taman Rusunawa itu sudah mencapai kemajuan sebesar 50 persen.

“Namun kami terus terang terkendala waktu” paparnya Kasi Intel Kejaksaan Negeri Kota Kediri Yudi Istono memberikan ulasan kepada Aliansi LSM Kota Kediri.

Pertemuan awalnya berjalan agak kaku, karena kasi intel memberikan uraian yang ‘kaku’ sehingga tercipta suasana ‘hangat’ dengan para wakil aliansi LSM itu. 

Pertemuan merasa bahwa kasi intel kurang menangkap rasa keadilan warga Kediri yang diaspirasikan oleh aliansi LSM ini. Terjadi adu argumentasi yang seru saat membahas masalah Pasar Setono Betek, RTH Sungai Brantas dan Raskin.

Usai pertemuan saat dikonfirmasi Imam Ansori Ketua Fomak (Forum Masyarakat Anti Korupsi) mengatakan, terkait soal RTH Sungai Brantas pembangunan itu melanggar Garis sempadan pada sungai dalam PP No. 38 tahun 2011 tentang Sungai ditentukan sebagai berikut, Garis Sempadan Sungai (GSS) tidak bertanggul di dalam kawasan perkotaan ditentukan, paling sedikit berjarak 10 meter, dari tepi kiri dan kanan palung sungai sepanjang alur sungai, dalam hal kedalaman sungai kurang dari atau sama dengan 3 meter.

"Pembangunan RTH Sungai Brantasi diduga belum berijin dan ijin pembangunan RTH Brantas diberikan hanya untuk pengelolaan air saja, bukan mendirikan bangunan," beber Imam. 

Ditambahkan Imam Ansori bahwa dibawah jembatan lama pernah dibangun taman yang memakai uang negara sebesar Rp 50 juta, yang kini dihilangkan dan diganti dengan RTH yang sekarang ini.

Kasi Intel Yudi Istono kalau masalah taman dibawah jembatan, menyarankan agar bertanya kepada dinas terkait soal itu. 

Aliansi LSM menyatakan bahwa beras yang diberikan ke warga sangat buruk kualitasnya, yang dijawab Kasi Intel bahwa beras yang diberikan sudah diperiksa laboratorium dan layak konsumsi.

Hal ini kurang bisa diterima, karena ada kemungkinan bahwa beras yang diperiksa laboratorioum dan yang dibagikan tidak sama. (prijo)

Index Berita